Sejarah Buntet Pesantren

Berdirinya Pondok Pesantren Buntet yang Pertama

Pondok Buntet Pesantren, yang berada di wilayah Timur Cirebon, didirkan oleh Mbah Muqoyyim 1750. Pendirian Pesantren ini merupakan sebuah bentuk kekecewaan Muqoyyim yang sebelumnya menjabat sebagai penghulu di Keraton Kanoman Cirebon. Karena keberpihakan pihak keraton terhadap kolonial Belanda, Muqoyyim akhirnya memilih untuk keluar dari keraton dan mendirikan pesantren Buntet.
Nama Buntet sendiri dari peristiwa penculikan Puteri Dewi Arum Sari (Putri Raja Galuh) oleh buto ijo saat sedang melakukan bulan madu bersama suaminya Pangeran Legawa (Putra Ki Ageng Sela). Puteri Arum Sari yang sedang mandi, tiba-tiba diculik oleh buto ijo dan dibawanya ke hutan Karendawahana (diperkirakan sekitar Buntet sekarang). Diwilayah tersebut, terjadi perkelahian antara Buto Ijo dan Pangeran Legawa yang dimenangkan oleh Pangeran Legawa dengan bisa membinasakan Buto Ijo. Saat menuju perjalanan pulang, Pangeran Legawa tersangkut akar pohon dukuh sehingga keduanya jatuh. Anehnya setelah peristiwa tersebut, Pangeran Legawa maupun Puteri Arum Sari tidak mengetahui arah jalan pulang. Akhirnya pasangan suami isteri tersebut memutuskan untuk tinggal diwilayah tersebut dan membuat pesanggarahan dengan nama Buntet atau buntu.
Buntet juga banyak dikenal dengan sebutan Depok. Hal. tersebut dikarenakan, wilayah didirkannya Pesantren Buntet pernah digunakan oleh Mbah Kuwu Cirebon (Pangeran Cakrabuana), Putra Prabu Siliwangi dan juga Uwak dari Sunan Gunung Jati untuk mendirikan padepokan. Sehingga masyarakat juga, mengenal Buntet dengan sebutan Depok.
Mbah Muqoyyim memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keraton. Jika merunut kebelakang, Ayah dari Muqoyyim yaitu Abdul Hadi, merupakan putra dari pasangan Pangeran Cirebon dan Anjasmoro, putri dari Lebe Mangku Warbita Mangkunegara. Abdul Hadi tinggal di keraton dan mendapatkan pendidikan ketatanegaraan dan juga pelajaran Islam. Karena pengetahuan Islamnya yang menonjol, Abdul Hadi kemudian lebih dengan dengan sebutan Kiai Abdul Hadi.
Dalam data lain juga menyebutkan, bahwa Mbah Muqoyyim merupakan keturunan dari Senegecang Ratu Marga Buay Bulan, Kibang-Menggala Tengah Tulang Bawang Lampung. Informasi ini didapatkan oleh KH. Amiruddin Abkari dari penjaga anjungan Lampung di Taman Mini Indonesia Indah bernama Marwansyah Warga Negara. Menurut Informasi tersebut juga, Mbah Muqoyyim cukup dikenal di Lampung dan diabadikan menjadi salah satu nama jalan disana.
Mbah Muqoyyim juga sempat tinggal di keraton. Hidup bersama kedua orang tuanya, Muqoyyim mendapatkan pendidikan yang cukup baik dari guru maupun orang tuanya. Bukan hanya pendidikan agama Islam dan ketatanegaraan saja, melainkan ilmu kedigdayaan juga dia pelajari. Melalui proses itulah, selain memiliki kemampuan dalam segi ilmu pengetahuan, Muqoyyim juga dikenal dengan Kiai sakti mandraguna.
Dalam pendapat lain, Mbah Muqoyyim disebutkan tidak memiliki guru secara formal. Artinya tidak mengenyam pendidikan pesantren atau datang berguru ke Kiai. Pengetahuan yang dimiliki oleh Mbah Muqoyyim didapatkan secara alami laduni (ilmu yang didapat tanpa proses belajar).
Perpisahan Muqoyyim dengan keraton berawal saat adanya upaya Devide et impera (Politik Memecah Belah) yang dilakukan oleh Belanda kepada Keraton Kanoman. Belanda melihat ada peluang untuk memecah belah Keraton Kanoman, karena saat itu memiliki dua orang putera pewaris kerajaan yang menjabat sebagai sultan Kanoman dan Kasepuhan. Namun, upaya yang dilakukan oleh belanda tidak bisa berjalan dengan baik. Selain itu, Kekecewaan Mbah Muqoyim menjadi cukup memuncak setelah melihat bangsawan keraton terjebak dalam aturan Belanda. Banyak diantara mereka malah berprilaku bertentangan dengan syariat Islam dan malah meniru hal.-hal. jelek yang dilakukan oleh bangsa Belanda, seperti dansa dan mabuk-mabukan.
Menurut KH. Amiruddin Abdul Karim, Mbah Muqoyyim juga pernah diundang secara khusus oleh Cut Nyak Dien dalam pertempuran di Aceh. Sebagai ucapan terima kasihnya, Cut Nyak Dien memberikan sebuah rencong sebagai kenang-kenangan. Ketika berada di Aceh, Mbah Muqoyyim dan Cut Nyak Dien sempat membuat sebuah tajug. Konon, salah satu tajug kecil yang tidak rusak diterjang tsunami pada tahun 2004 lalu adalah tajug yang dibangun oleh Mbah Muqoyyim.
Perjuangan Muqoyyim untuk mendirikan Pondok Pesantren tidaklah mudah, karena kekuatan ulama yang cukup besar saat itu, bisa menjadi senjata yang cukup besar untuk menggerakkan santri dan masyarakat dalam melawan penjajah. Kondisi ini membuat Pondok Pesantren merupakan salah satu lembaga yang menjadi incaran oleh penjajah untuk dihancurkan.
Mbah Muqoyyim awalnya mendirikan Pesantren Buntet di kampung Kedung Malang Desa Buntet Kecamatan Astanajapura Cirebon. Beliau membangun rumah yang sangat sederhana dan juga langgar (Musholla) dan beberapa kamar santri. Saat beliau memberikan pengajian, ternyata banyak menarik masyarakat untuk bergabung belajar mengaji kepada beliau.
Belanda yang mengetahui kegiatan dan keberadaan Muqoyyim, langsung melakukan serangan dan percobaan penangkapan. Karena informasi tersebut sudah bocor, Mbah Muqoyyim akhirnya bisa menyelamatkan diri bersama sahabat dekatnya yaitu Kiai Ardi Sela menuju Desa Pesawahan Sindanglaut yang letaknya ± 10 Km dari Pesantren Buntet. Namun, pesantren yang sudah didirikannya hancur dibombardir oleh belanda. Peristiwa inilah yang menjadikan Mbah Muqoyyim sempat berpetualang ke wilayah pemalang dan akhirnya kembali ke Cirebon untuk membangun lagi pesantren Buntet di wilayah yang berbeda, yaitu di Blok Manis, Depok Pesantren Desa Mertapada Kulon.
Peninggalan-peninggalan sebagai bukti bahwa Pondok Pesantren Buntet sebelumnya didirkan di Kampung Kedung Malang Desa Buntet, bisa dilihat dari adanya makam yang berada di areal tersebut. Konon, itu merupakan makam santri pada zaman Mbah Muqoyyim yang meninggal saat mencari ikan. Saat ini, makam tersebut berada di perkebunan yang lokasinya berdekatan dengan jalan utama Desa Buntet. Masyarakat sekitar lebih mengenal lokasi tersebut dengan nama makam santri. Hingga saat ini, makam itu masih sering diziarahi, terutama oleh para santri baru yang dibimbing langsung oleh para pengasuh, untuk bisa mengenal lokasi Pesantren Buntet yang pertama.
Pasca Pesantren Buntet yang pertama dibombardir oleh Belanda. Mbah Muqoyyim mengentikan aktivitas kepesantrenan yang sebelumnya telah dibangun. Untuk menghindari penangkapan dari Belanda, Mbah Muqoyyim berkelana dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Walaupun dalam kondisi yang cukup genting dan menjadi target utama pengejaran Belanda. Mbag Muqoyyim tetap melanjutkan Syiar Islam di wilayah-wilayah yang disinggahinya. Beberapa tempat-tempat persinggahan Mbah Muqoyyim dalam masa pelariannya diantaranya adalah Dusun Pesawahan di Desa Lemahabang, Tuk Karangsuwung, dan Beji di Pemalang (Jateng). Dalam peristiwa tersebut, Pangeran Santri ditangkap oleh Pihak Belanda. Sejatinya Pangeran Santri masih mampu untuk melawan Belanda. Namun, ketika Belanda mengancam akan membunuh orang tua dan keluarganya di Keraton. Pangeran santri memilih menyerah dan akhirnya dibuang ke Ambon.
Saat melakukan pelarian di Desa Pesawahan, Mbah Muqoyyim dan Kiai Ismail tetap melanjutkan perjuangannya mendirikan Pesantren untuk keperluan masyarakat. Di Pesawahan, mereka membangun dan membenahi berbagai sarana kebutuhan Pesantren seperti masjid dan bilik-bilik santri. Konon, dalam pendirian masjid di Komplek Pesantren Pasawahan ini, karomah Mbah Muqoyyim bisa dilihat. Karena saat membangun masjid di komplek tersebut, Mbah Muqoyyim hanya menggunakan satu batang pohon jati. Saat itu, Mabh Muqoyyim memerintahkan santri untuk mengambil pohon tersebut dengan menggunakan bahasa jawa Cirebon “ Jukuten bae jati ning kulo sa’ wit bae” artinya : ambil saja pohon jati yang di barat, satu pohon saja. Karena peristiwa tersebut, wilayah dimana pohon jati tersebut ditebang, saat ini dikenal dengan nama Jati Sawit.
Saat berada di Pesawahan, Mbah Muqoyyim kedatangan tamu agung yaitu Pangeran Muhammad putera Sultan Chaeruddin dari Keraton Kanoman yang kelak bergelar Sultan Chaeruddin II. Selain menceritakan tentang campur tangan Belanda yang cukup besar di Keraton, Pangeran Chaeruddin juga menyatakan ingin menjadi santri Mbah Muqoyyim untuk belajar ilmu-ilmu agama, bela diri dan kesaktian. Saat menjadi santri, Pangeran Chaeruddin lebih dikenal dengan sebutan Pengeran Santri. Salah satu kesaktian yang berhasil dimiliki oleh Pangeran Santri adalah aji usap dolanan. Dengan ajian tersebut, seserahan buah-buahan yang dibawa oleh masyarakat untuk belanda tidak ada isinya. Ternyata, kelakuan Pangeran Santri ini menjadi titik terang bagi Belanda untuk menemukan Mbah Muqoyyim. Karena Belanda yakin, tidak ada yang bisa melakukan hal. tersebut selain murid Mbah Muqoyyim.
Mendapatkan informasi tentang keberadaan Mbah Muqoyyim, Belanda langsung melakukan penyerangan terhadap Pesantren Pesawahan. Untuk menyelamatkan para santrinya, Mbah Muqoyyim dibantu oleh Kiai Ardi Sela memasukkan santrinya kedalam kendi dan pergi menuju Sindanglaut. Belandapun kembali menyerang Sindanglaut untuk mencari Mbah Muqoyyim, namun beliau sudah pergi menuju ke Pemalang.
Keberadaan Mbah Muqoyyim di Cirebon dirasa tidak aman lagi, karena Belanda dengan mudah mengetahui keberadaan Mbah Muqoyyim ketika masih berada di Wilayah Cirebon. Melihat kondisi tersebut, Mbah Muqoyyim memeiliki inisiatif untuk keluar dari Cirebon dan menuju ke Pemalang Jawa Tengah. Mbah Muqoyyim tiba di Kampung Beji, Kampung yang sebenarnya bernama Kenanga, namun lebih dikenal dengan sebutan Beji, karena hanya memiliki satu lebe, jika diterjemahkan dalam bahasa jawa adalah Lebe Siji (Beji). Mbah Muqoyyim tinggal dirumah Kiai Abdussalam, ia tinggal dan hidup sebagaimana santri lainnya, yaitu mengisi bak mandi dll. Namun ada satu hal. yang membuat geger Pesantren saat itu. Yaitu saat melihat Muqoyyim sangat leluasa keluar masuk sebuah hutan yang sangat angker untuk mencari kayu bakar. Padahal., beberapa orang yang berani masuk kedalamnya, maka tidak bisa kembali lagi. Banyak hal. Istimewa yang diketahui dari sosok Muqoyyim. Melihat potensi yang cukup besar tersebut, Kiai Abdussalam akhirnya mengangkat Muqoyyim menjadi menantunya.
  1. Membangun Kembali Pesantren Buntet
    Para Masyayyikh Buntet Pesantren
Pasca Mbah Muqoyyim menetap di Pemalang, wabah besar menimpa Cirebon. Saat itu, penyakit To’un melanda masyarakat Cirebon dan mengakibatkan banyak warga yang  meninggal dunia baik dari warga biasa, bangsawan keraton maupun dari pihak Belanda. Kondisi ini cukup menghawatirkan banyak pihak, sehingga beberapa orang pintar baik itu dokter, tabib, dukun dan orang sakti didatangkan untuk bisa mengatasi permasalahan ini.
Dari sekian banyak orang sakti dan pintar yang didatangkan untuk mengantisipasi wabah To’un, ternyata kesemuanya tidak ada yang memberikan hasil memuaskan. Wabah tersebut masih saja menimpa masyarakat dan mengakibatkan kematian yang cukup cepat. Akhirnya, keluar usulan agar meminta bantuan Mbah Muqoyyim yang saat itu sedang berada di Pemalang. Perwakilan dari keraton yang diutuspun langsung menghadap Mbah Muqoyyim dan menyampaikan tujuan kedatangannya untuk meminta bantuan Mbah Muqoyyim mengusir wabah To’un tersebut. Mbah Muqoyyim menyetujuinya untuk kembali ke Cirebon dan berusaha menghilangkan wabah tersebut, namun dengan syarat yaitu Pangeran Muhammad Chaeruddin (Pangeran Santri) yang dibuang oleh Belanda ke Ambon, agar dikembalikan ke Cirebon.
Dengan izin dari Allah, Mbah Muqoyyim bisa menghilangkan wabah To’un tersebut. Pangeran Santripun saat itu sudah ada di Cirebon dan kembali menjadi Santri Mbah Muqoyyim. Kesempatan pulang ke Cirebon dalam rangka pengobatan wabah To’un, dimanfaatkan oleh Mbah Muqoyyim untuk kembali membangun Pesantren Buntet yang sebelumnya telah diporak-porandakan oleh Belanda. Mbah Muqoyyim kembali mendirikan Pesantren Buntet sekitar tahun 1758. Lokasi pendirian bergeser dari lokasi pertama namun tidak begitu jauh. Kali ini Mbah Muqoyyim membangun Pesantren Buntet di Blok Manis, Depok Pesantren Desa Mertapada Kulon. Penamaan Depok sendiri, karena konon wilayah tersebut pernah menjadi tempat padepokan yang didirkan Pangeran Cakrabuana, putra dari Prabu Siliwangi sekaligus Uwak dari Sunan Gunung Jati.
Pada saat mendirikan dan memimpin Pondok Pesantren Buntet yang kembali dibangun. Mbah Muqoyyim melakukan riyadah khusus dengan melakukan puasa selama 12 tahun. Tiga tahun untuk keberkahan tanah dan pesantren yang dibangun, tiga tahun kedua untuk keselamatan anak cucunya, tiga tahun selanjutnya untuk para santri dan pengikut setianya dan tiga tahun terakhir untuk keselamatan dirinya.
Perbedaan Pondok Buntet Pesantren dengan pesantren-pesantren lainnya adalah, keberadaan pesantren lebih awal dibandingkan dengan berdirinya desa dan masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Menurut KH. Amiruddin Abkari salah seorang Kiai Sepuh di Buntet Pesantren, masyarakat di wilayah Pesantren Buntet dulunya adalah santri yang menikah dengan santri lainnya. Dari pernikahan ini, menjadikan wilayah Buntet Pesantren menjadi ramai dan memiliki penduduk cukup banyak. Para penduduk biasa yang bukan keturunan Kiai, di Buntet Pesantren dikenal dengan sebutan mager sari.
Kondisi Pesantren saat awal didirikan kembali oleh Mbah Muqoyyim sangat sederhana, hanya berbentuk langgar yang bisa digunakan mengaji secara bersama-sama. Para santri saat itupun kebanyakan adalah santri kalong, sehingga pesantren belum membutuhkan ruangan yang cukup banyak.
Mbah Muqoyyim menikah dua kali, yang pertama dengan putri dari Kiai Entol Rujitnala, seorang Kiai keturunan Pengeran Luwung. Mbah Muqoyyim menikahi Putri dari Kiai Entol Rujitnala yang bernama Nyai Ratu Randulawang, setelah berhasil memenangkan sayembara yang diberikan oleh ayahnya. Saat itu, sebuah Bendungan yang ada di daerah Setu Mundu Cirebon, sering bocor bahkan bobol yang mengakibatkan kebanjiran melanda wilayah tersebut. Karena berbagai usaha tidak selalu berhasil, Kiai Entol akhirnya memberikan sayembara kepada siapa saja yang bisa membuat kokoh bendungan tersebut, maka akan dinikahkan dengan putrinya yang elok rupawan.
Dengan bantuan Kiai Entol, Mbah Muqoyyim memutarkan tali dan dikaitkan dengan patok-patok yang melingkari bendungan. Setelah keduanya berdo’a, bendungan berubah menjadi kuat. Karena peristiwa tersebut, bendungan itu dinamakan Setu Patok. Karena berhasil memenangkan sayembara, Mbah Muqoyyim akhirnya menikah dengan Nyai Ratu Randulawang atau dikenal dengan Nyi Pinang, karena menikah dari hasil sayembara.
Pernikahan kedua Mbah Muqoyyim, yaitu dengan putri dari Kiai Abdusaalam, yang merupakan guru Mbah Muqoyyim ketika sedang melakukan pengembaraan di Beji Pemalang. Melihat banyak kelebihan yang dimiliki oleh Mbah Muqoyyim, akhirnya Kiai Abdussalam mengangkat muridnya tersebut menjadi menantunya.
Dari pernikahan pertamanya dengan Nyai Randulawang, Mbah Muqoyyim memiliki seorang putri yang nantinya akan dinikahkan dengan santri terbaiknya yaitu Raden Muhammad. Mbah Muqoyyim wafat dan dimakamkan dibekas petilasannya di Desa Tuk Karangsuwung Kec. Lemahabang Cirebon. Makamnya berdekatan dengan teman seperjuangannya yaitu Kiai Ardi Sela. Tidak banyak yang mengetahui tahun dan tanggal berapa Mbah Muqoyyim wafat. Saat ini, makam beliau dijadikan salah satu objek Ziarah dan selalu banyak didatangi peziarah.Jarak makam Mbah Muqoyyim dengan Pesantren Buntet yang ia bangun sekitar 4 Km. Para santri Buntet hingga saat ini masih melakukan rutinitas ziarah di makam tersebut baik menggunakan kendaraan maupun berjalan kaki.
Kekosongan kepemimpinan sempat terasa pasca Mbah Muqoyyim wafat. Kondisi tersebut dikarenakan ia tidak memiliki anak laki-laki. Pesantren Buntet kembali berkembang, setelah cucu yang bernama Nyai Ratu Aisyah, menikah dengan Kiai Mutta’ad putra dari Raden Muridin yang masih memiliki hubungan dengan Keraton Kanoman Cirebon. Dari jalur Kiai Mutta’ad juga, para Kiai dan keluarga Buntet Pesantren memiliki jalur keturunan sampai ke Sunan Gunung Jati. Kiai Mutta’’ad sendiri merupakan keturunan ke-17 dari Sunan Gunung Jati.Dari keterangan ini bisa disimpulkan, bahwa Kiai Mutta’ad adalah Cucu menantu dari Mbah Muqoyyim.
Abdurrahman Wahid dalam bukunya yang berjudul menggerakkan tradisi esai-esai pesantren, menjelaskan bahwa proses pembentukan kepemimpinan dalam pesantren sangat bersifat alami. Kondisi tersebut tidak jarang membuat pergantian pimpinan dalam pesantren mengalami perbedaan cukup jauh bahkan menghasilkan kemunduran. Terkadang juga, pemimpin baru yang mengelola pesantren, belum siap untuk mengimbangi kemajuan dan perkembangan pesantren yang dikelolanya.
Untuk mengantisipasi kemunduran kualitas yang terjadi saat pergantian kepemimpinan Pesantren. Mutta’ad sebenarnya sudah sering dilatih untuk mengelola pesantren dengan menggantikan posisi mertuanya, yaitu Raden Muhammad untuk mengajar santri. Rutinitas ini membuat Mutta’ad tidak begitu canggung ketika harus mengelola Pesantren Buntet.
Menurut keterangan yang diberikan oleh KH. Amiruddin Abkari, menyebutkan bahwa Mbah Muqoyyim sebenarnya memiliki putra laki-laki. Namun karena kondisi putra laki-laki Mbah Muqoyyim tersebut mengalami keterbelakangan mental, maka Mbah Muqoyyim menunjuk Kiai Mutta’ad untuk menggantikan posisinya.
Sebenarnya, Keluarga besar Buntet Pesantren masih memliki keturunan bangsawan dari Jalur Sunan Gunung Jati maupun keturunan Keraton melalui Kiai Mutt’ad, namun oleh para Kiai terdahulu, melarang anak cucunya untuk menggunakan gelar bangsawannya. Ada dua versi tentang alas an pelarangan tersebut. Menurut Muahimin Ag dalam Islam dalam bingkai budaya local, pelarang tersebut diperkirakan masih berkaitan dengan campur tangan Belanda terhadap keraton. Pelarangan itu juga, ada kaitannya dengan perubahan sifat penghuni keraton setelah adanya intervensi Belanda. Sedangkan menurut KH. Amiruddin Abkari, pelarangan penggunaan gelar bangsawan sudah diterapkan sejak dulu. Semua itu dilakukan agar tidak ada jarak dengan masyarakat biasa. Para Kiai terdahulu menghawatirkan, jika para penerusnya menggunakan gelar bangsawan, maka hubungan Kiai dengan masyarakat lebih berjarak dan kurang ada kedekatan.
KH. Amiruddin Abkari bahkan mengatakan, jika saja Mbah Muqoyyim masih bertahan di Keraton Kanoman, maka beliau akan menjadi sultan. Dan cukup memungkinkan juga keluarga Buntet Pesantren yang ada saat ini, bisa menjadi sultan, jika memilih tinggal di keraton.
Garis keturunan Kiai Mutta’ad hingga Sunan Gunung Jati yaitu: Kiai Mutta’ad bin Raden Muriddin bin Raden Muhammad Nuruddin bin Raden Ali bin Raden Punjul bin Raden Bagus bin Raden Pangeran Sutajaya Ing Gebang (Sultan Matangaji) bin Dalem Anom (Sultan Senapati) bin Dalem Kebon Ing Gebang bin Pangeran Sutajaya Kang Seda Ing Grogol bin Pangeran Sutajaya Kang Seda Ing Tambak bina Panembahan Ratu (P. Girilaya) bin Pangeran Dipati bin Pangeran Pasarean bin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Kiai Mutta’ad menikah dua kali, yang pertama dengan Nyai Aisyah puteri dari Raden Muhammad, dikenal juga dengan sebutan Nyo Lor dan pernikahan kedua dengan Nyi Kidul. Dari pernikahan pertamanya, Kiai Mutta’ad memiliki sepuluh orang anak yaitu:
  1. Ny. Rochilah
  2. Ny. Mu’minah
  3. Ny. Qoyyumiyah
  4. KH. Barwi (Kotik)
  5. Kiai Soleh Zamzam
  6. Ny. Maemunah
  7. H. Soleman
  8. K. Abdul Jamil
  9. K. Fachrurrozie
  10. K. Abdul Karim
Sedangkan dari Nyai Kidul, Kiai Mutt’ad memiliki lima putra yaitu:
  1. Nyai Saodah
  2. Kiai Mu’min
  3. Kiai Tarmidzi
  4. Ny. Hamimah
  5. K. Abdul Mu’thi.
Puteri bungsu Kiai Mutta’ad yang bernama Nyai Rochilah menikah dengan Kiai Anwaruddin atau lebih masyhur dikenal dengan Kiai Krian. Panggilan tersebut karena masyarakat menganggap Kiai Krian adalah Wali Karian (Wali Belakangan). Kiai Krian merupakan Kiai yang memiliki ilmu pengetahuan dan ilmu kedigdayaan yang sangat tinggi. Sehingga saat itu, masyarakat menganggap Kiai Krian adalah seorang wali.
Selain berguru pada mertuanya, Kiai Mutta’ad juga belajar pada Kiai Musta’in Jepara. Kemudian bersama adik misannya yaitu Murtasim, Kiai Mutta’ad kembali mesantren di Pondok Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo. Beberapa Kiai Besar yang menjadi lulusan Pondok Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo diantaranya adalah, KH. Hasyim Asy’ari, KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Muhammad Dahlan, KH. Wahid Hasyim dan KH. Ridwan Abdullah.
Cukup lamanya Pesantren Buntet mengalami kekosongan kepemimpinan pasca wafatnya Mbah Muqoyyim, membuat Kiai Mutta’ad harus ekstra keras dalam melanjutkan perjuangan Mbahnya tersebut. Bilik-bilik santri dan juga tempat ibadah dilakukan pembenahan. Bahkan, Kiai Mutta’ad menulis sendiri kitab dan Al-qur’an yang akan digunakan untuk mengajar santrinya. Untuk bisa menulis kitab maupun Al-qur’an, Kiai Mutta’ad juga membuat tinta sendiri. Saat itu, Kiai Mutta’ad memang sangat memiliki perhatian terhadap Al-Qur’an dari segi membaca dan pemahamannya. Beberapa tulisan Al-Qur’an maupun kitab-kitab kuning yang ditulis tangan oleh Kiai Buntet Pesantren, hingga saat ini masih ada, namun dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.
Selain pendidikan keagamaan melalui jalur pendidikan Pesantren. Pesantren Buntet juga terkenal dengan gerakan tarekatnya. Menantu dari Kiai Mutta’ad yaitu Kiai Kriyan membawa tarekat Syatariyah dari gurunya yaitu Kiai Asy’ari Kaliwungu dan Kiai Abdul Qohar.
Martin Van Bruinessen dalam Kitab Kuning Pesantren dan tarekat menyebutkan bahwa tarekat memiliki penanan penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Ajaran Tasawuf yang diajarkan para sufi saat itu, bukan hanya menarik masyarakat Nusantara saja untuk memeluk agama Islam, namun juga Asia Tenggara. Martin menjelaskan, Islam di Indonesia hingga saat ini masih berkaitan dengan sikap-sikap sufistik dan berbau kearamat. Bahkan, para pedagang asing juga diyakini menyebarkan Islam dengan bantuan para sufi yang datang bersama mereka.
Berkat gerakan yang dilakukan oleh Kiai Kriyan, baik itu melalui pengajaran agama di Pesantren dan tarekat yang diamalkannya, nama Buntet Pesantren menjadi lebih banyak dikenal oleh masyarakat. Tarekat Syatariyah yang diajarkan oelh Kiai Kriyan berhasil emnarik ratusan jamaah untuk bergabung.
Peran Kiai Kriyan yang cukup besar di Masyarakat terutama dalam pengembangan ajaran Islam, ternyata emndapatkan perhatian khusus dari pihak keraton Kasepuhan Cirebon. Kiai Kriyan diangkat menjadi penghulu Kesultanan dan menetap di keraton beserta keluarganya. Kiai Kriyan juga mengajak serta Kiai Abdul Jamil, putera Kiai Mutta’ad yang saat itu masih kecil.
  1. Perkembangan Pondok Pesantren Buntet
Kiai Mutta’ad wafat saat umur 67 tahun, beliau dimakamkan di Tuk Sindanglaut berdekatan dengan makam istrinya Ny. Rochilah serta Mbah Muqoyyim dan Kiai Ardi Sela. Pasca meninggalnya Kiai Mutta’ad, kepemimpinan Pesantren Buntet diambil alih oleh Kiai Abdul Jamil, Salah satu putranya. Semasa kecilnya, Abdul Jamil mendapatkan bimbingan serius dari Kiai Anwaruddin (kayi Kriyan). Melalui Kiai Kriyan pula, Kiai Abdul Jamil bisa mengkhatamkan berpuluh-puluh kitab salaf, ilmu qiraat, lmu tata Negara dan kedigdayaan, sehingga kesiapannya dalam menggantikan posisi Kiai Mutta’ad tidak perlu diragukan lagi.
Posisi Kiai Abdul Jamil dengan Kiai Anwaruddin (Kiai Kriyan) selain sebagai adik ipar, Kiai Abdul jamil juga diangkat menjadi menantu Kiai Kriyan setelah dinikahkan dengan putrinya yang bernama Sa’diyah. Saat itu umur Sa’diyah masih kecil sehingga belum bisa melayani Kiai Abdul Jamil baik itu lahir maupun bathin. Melihat kondisi tersebut, Kiai Kriyan mencarikan lagi Isteri untuk Kiai Abdul Jamil yaitu Nyai Qoriah, putera dari KH. Syatori salah seorang pegawai keagamaan (penghulu landrat) Cirebon.
Dari pernikahannya dengan Nyai Qoriah, Kiai Abdul Jamil Memiliki keturunan sebagai berikut :
  1. KH. Abbas
  2. Nyai Yakut
  3. Nyai Mu’minah
  4. Nyai Nadroh
  5. KH. Akyas
  6. KH. Anas
  7. KH. Ilyas
  8. Nyai Zamrud
Sedangkan dari perkawainan dengan Nyai Sa’’diyah binti KH. Anwaruddin Kriyan, Kiai Abdul Jamil memperoleh keturunan sebagai berikut :
  1. Nyai Sakiroh
  2. Nyai Mundah
  3. KH. A Zahid
  4. Nyai Sri (Enci)
  5. Nyai Khal.imah
Selain pernah mesantren dan berguru pada Kiai Murtadlo di Pesantren Mayong Jepara, Kiai Abdul Jamil juga mendapatkan pendidikan dari ulama-ulama Timur Tengah. Kiai Abdul Jamil sempat belajar di Makkah beberapa tahun, saat beliau melaksanakan perjalanan ibadah haji kesana. Salah satu pelajaran yang beliau dalami adalah seni qira’at.
Menurut KH. Amiruddin Abkari, saat Kiai Abdul Jamil berada di Makkah dan belajar disana. Kiai Abdul Jamil bertemu dengan KH. Hasyim Asy’ari. Dalam perbincangannya, KH Abdul Jamil meminta kepada KH. Hasyim Asy’ari ketika pulang ke Jawa Timur untuk sesegera mungkin membangun Pondok Pesantren. Saat itu, KH. Hasyim Asy’ari masih ragu dan bertanya kepada Kiai Abdul Jamil tentang siapa yang akan belajar kepada dirinya. Mendapat pertanyaan tersebut, Kiai Abdul Jamil dengan tegas menjawab, bahwa putranya siap menjadi murid dari KH. Hasyim Asy’ari. Cerita ini pula yang melandasi KH. Abbas dan KH. Anas akhirnya dipesantrenkan di Tebu Ireng. Saat itu, selain menjadi salah satu santri awal, KH. Abbas dan KH. Anas juga merupakan santri terjauh.
Jika melihat pernyataan dari KH. Amiruddin Abdul Karim, cukup berkaitan juga dengan data yang disampiakan oleh Muhaimin AG dalam bukunya Islam dalam bingaki budaya local, yang menyebutkan bahwa KH. Abdul Jamil pada tahun 1900 diundang oleh KH. Hasyim Asy’ari untuk mengajar di Pesantren Tebuireng Jombang. KH. Abdul Jamil ditemani oleh Kiai Sholeh Zamzami dari Pesantren Benda Kerep, Kiai Abdullah dari Panguragan dan Kiai Syamsuri dari Wanantara. Mereka menetap dan mengajar di Tebuireng selama 8 bulan. Hal. ini mungkin saja berkaitan dengan proses awal pendirian Pondok Pesantren Tebuireng saat itu, pasca bertemunya KH. Hasyim Asy’ari dengan KH. Abdul Jamil di Makkah.
Dalam Pondok Pesantren, pemilihan sesepuh merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan. Karena sesepuh merupakn symbol dan pucuk pimpinan dari pesantren tersebut. Di Pesantren Buntet sendiri, penunjukan Kiai Sepuh dilakukan menggunakan system Sohibul Wilayah, yaitu keturunan laki-laki dari pendiri pesantren sepanjang garis keturunan laki-laki.
Dipilihnya Kiai Abdul Jamil menggantikan Kiai Mutta’ad, dikarenaka putera tertua dari Kiai Mutta’ad yaitu Kiai Barwi, menikah dan tinggal di Jawa Timur, sedangkan putra keduanya yaitu Kiai Soleh Zamzami mendirikan pesantren baru di Benda Kerep. Ditunjuknya Kiai Abdul Jamil sebagai pengganti dari Kiai Mutta’ad, dikarenakan Kiai Abdul Jamil masih tinggal di Pesantren Buntet, sedangkan kakaknya yaitu Kiai Sulaeman telah meninggal mendahului Kiai Mutta’ad.
Tidak dipilihnya keturunan wanita dalam Sohibul wilayah ini dikarenakan posisi wanita dalam perkawainan adalah pihak yang dipinang, sehingga tanggungjawab sepenuhnya ada pada suaminya. Sehingga keturunan yang masuk dalam kategori sohibul wilayah adalah yang memiliki keturunan dari jalur suami / laki-laki.
Pada masa kepemimpinan Kiai Abdul Jamil, Pesantren Buntet merasakan perkembangan yang cukup signifikan. Pembenahan system pendidikan, pembangunan sarana dan prasarana juga dilakukan pada saat Kiai Abdul Jamil memimpin sebagai sesepuh Pesantren Buntet. Pada masa kepemimpinan Kiai Abdul Jamil, Pesantren Buntet melakukan beberapa pembangunan penting, selain penambahan bilik-bilik santri, pada masa itu juga dibangun Masjid Jami Buntet Pesantren yang merupakan bantuan dari salah seorang donator asal Kanggraksan Cirebon. Untuk memudahkan jalur transportasi menuju Pesantren Buntet, pada zaman Kiai Abdul Jamil juga berhasil membangun jembatan yang hingg saat ini menjadi akses penting untuk masuk ke wilayah pesantren.
Untuk menyemarakkan aktivitas di Pesantren Buntet, Kiai Abdul Jamil menarik saudara-saudaranya untuk terlibat dalam mengembangkan Pesantren Buntet. Beberapa Kiai yang diajak oleh Kiai Mutta'ad untuk emngambangan Pesantren Buntet diantaranya adalah KH. Abdul Mun’im, KH. Abdul Mu’thi, Kiai Muktamil, Kiai Abdullah dan Kiai Chamim. Para Kiai tersebut meramaikan Pesantren Buntet dengan mendirikan pengajian di rumah masing-masing dan juga di Masjid Jami Pesantren Buntet.
Kepemimpinan KH. Abdul Jamil menghasilkan perubahan besar bagi Pesantren Buntet. Saat itu, system pendidikan terutama pengajaran kitab kuning mulai tertata dengan rapi. Beberapa Kiai yang sudah direkrut oleh KH Abdul Jamil dibagi tugas dengan bagiannya masing-masing. Pembangunan bilik santri dan masjidpun sudah bisa direalisasikan. Selain itu, akses masuk pondok pesantren sudah bisa dilalui dengan mudah. Kemajuan itu ditambah dinobatkannya Kiai Abdul Jamil untuk menjadi seorang mursyid (pemimpin tarekat) agar menyebarkan dan merekrut pengikut baru tarekat Syatariyah. Sebelumnya, mursyid Tarekat Syatariyah dipegang oleh KH. Soleh Zamzami, kakak kandung dari KH. Abdul Jamil yang mendirikan Pesantren Benda Kerep. KH. Soleh Zamzami sendiri, menjadi mursyid tarekat syatariyah, setelah mendapatkan pelimpahan dari KH. Anwaruddin Kriyan yang pindah tinggal di Keraton.
Posisi KH. Abdul Jamil sebagai mursyid tarekat syatariyah, membuat Pesantren Buntet menjadi salah satu pusat tarekat syatariyah saat itu. Kondisi ini tentu saja mengangkat nama Pesantren Buntet, karena banyak pengikut syatariyah yang datang dan mengenal nama Pesantren Buntet. Pada masa kepemimpinan KH. Abdul Jami, jumlah santri Pesantren Buntet mencapai 700 orang yang terdiri dari santri dalam dan luar negeri. Karena saat itu, tercatat juga ada santri dari Singapura. Salah satu lulusan santri terbaik saat Pesantren Buntet dijabat oleh KH Abdul Jamil adalah KH. Samanhudi yang pada tahun 1911 mendirikan Syarikat Dagang Islam, dan juga KH. Ridlwan Abdullah (pencipta lambang NU).
Pada tahun 1919 KH. Abdul Jamil Wafat, beliau saat itu masih menjabat sebagai dewan syuriyah Syarekat Dagang Islam yang didirikan oleh muridnya yaitu H. Samanhudi. Keterlibatan KH. Abdul Jamil dalam organisasi Syarekat Dagang Islam, menurut penulis bukan karena factor hubungan guru dan murid saja. Namun, saat itu H. Samanhudi yang juga pengusaha batik, mendirikan SDI dalam bentuk Koperasi Pedagang Batik Jawa. Pada saat itu juga keluarga besar Kiai di Pesantren Buntet merupakan pengrajin batik, sehingga cukup beralasan jika KH. Abdul Jamil akhirnya menjabat sebagai dewan syuriah SDI. Bahkan dalam sebuah acara pengenalan batik di Cirebon, salah seorang pengamat batik nasional menyebutkan bahwa batik termahal. didunia adalah batik buatan Pesantren Buntet yang dikenal dengan julukan Jaliteng dan Jalibang.
Sepeninggal KH. Abdul Jamil, kepemimpinan Pesantren Buntet diserahkan pada KH. Abbas yang merupakan putera tertua KH. Abdul Jamil hasil pernikahannya dengan Nyai Qariah. Kepemimpinan KH. Abbas sangat mirip dengan gaya kepemimpinan ayahandanya. Beliau merekrut keluarga untuk ikut bersama membangun Pesantren Buntet dengan terlibat secara langsung dalam proses belajar mengajar santri. Perjuangan berat yang dilakukan KH. Abbas dalam pengembangan Pesantren Buntet banyak dilatarbelakangi karena kondisi politik dan keamanan Indonesia saat itu tidak stabil. Pondok Pesantren bukan hanya menjadi basis pendidikan agama, namun juga dijadikan sebagai pusat perlawanan terhadap para penjajah.
Perjuangan yang dilakukan oleh KH. Abbas dalam memepertahankan NKRI, bukan hanya terlibat dalam peperangan di wilayah Cirebon saja, melainkan di beberapa wilayah lainnya seperti Bekasi, Cianjur, Jakarta, Surabaya dan lainnya. Karena kemampuannya dalam segala bidang, KH. Abbas dinobatkan sebagai pemimpin Hizbullah dan Sabilillah.
KH. Abbas mendapatkan bimbingan yang ketat dari ayahandanya yaitu Kiai Abdul Jami tentang masalah keagamaan. Setelah dirasa cukup berguru kepada ayahnya, Kiai Abbas kemudian melanjutkan berkelana untuk mendapatkan pendidikan keagamaan yang lebih luas lagi. Pesantren pertama yang disinggahi Kiai Abbas adalah Pesantren Sukanasari, Plered Cirebon, pimpinan dari Kiai Nasuha. Lokasinya sekitar 10 Km barat dari Pesantren Buntet. Kiai Abbas melanjutkan pendidikan keagamaannya dengan keluar daerah Cirebon. Pesantren pimpinan Kiai Ubaidah  Tegal dipilih oleh Kiai Abbas, selepas mendapatkan bimbingan dari Kiai Nasuha di Plered Cirebon.
Bukan hanya mengenyam pendidikan agama di dalam negeri saja, Kiai Abbas juag mendapatkan pendidikan keagamaan di timur tengah. Saat pergi menunaikan ibadah haji di Makkah, Kiai Abbas tidak langsung pulang, melainkan berguru pada ulama-ulama baik dari Indonesia maupun dari Timur Tengah. Saat itu, Kiai Abbas tinggal dikediaman Syaikh Zabidi dan berguru pada salah satu ulama asal Indonesia yang mengajar di Makkah adalah Kiai Mahfudz dari termas Jawa Timur. Beberapa rekan Kiai Abbas asal Jawa diantararanya adalah Kiai Bakir dari Yogyakarta, Kiai Wahab hasbullah dan Kiai Abdillah dari Surabaya. Selain belajar, Kiai Abbas juga sempat mengajar dan memiliki murid yang diataranya berasal dari Cirebon yaitu Kiai Kholil dari Pesantren Balerante dan juga Kiai Sulaeman dari Babakan Ciwaringin.
Sepulang dari Makkah, Kiai Abbas kembali berguru pada ulama-ualam di Indonesia, salah satunya adalah KH. Hasyim Asy’ari. Menurut KH. Amiruddin, dikirmnya Kiai Abbas ke Pesantren Tebuireng, merupakan salah satu pelunasan janji Kiai Abdul Jamil kepada KH.Hasyim Asy’ari, saat dirinya meminta kepada KH. Hasyim untuk mendirikan pesantren ketika pulang ke Indonesia. Kiai Abbas mesantren di Tebuireng beserta dengan adiknya, yaitu Kiai Anas. Di pesantren tersebut, Kiai Abbas dan Kiai Anas bertemu dengan Mbah Manab yang nantinya mendirikan Pesantren Lirboyo Kediri.
Pada tahun 1928 bertepatan dengan adanya Sumpah Pemuda, Kiai Abbas membuat gebrakan baru di dunia pesantren, yaitu dengan mendirikan Madrasah Abnaul Wathan Ibtidaiyah yang didalamnya mengajarkan pendidikan umum. Gebrakan ini menurut KH. Amiruddin, karena mengamalkan salah satu petuah yang Imam Syafi’I yang sangat dipegang teguh oleh Kiai-Kiai Nahdlatul Ulama yaitu “al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah” yang artinya memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.
Kiai Abbas dan Kiai Anas juga terlibat dalam pendirian Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Saat itu, Kiai Abas dan Kiai Anas mesantren bareng dengan Mbah Manab di Tebuireng Jombang. Saat diberikan mandat oleh mertuanya yaitu Kiai Sholeh Banjarmlati untuk tinggal di Lirboyo, kondisi saat itu kurang begitu aman. Wilayah Lirboyo yang terkenal dengan markas maling, perusuh, perampok dan juga cukup angker, membuat Kiai Manab harus melakukan usaha batin seperti riyadhah (Tirakat) dan berpuasa memohon pertolongan Allah. Kiai Manab juga terus bertabligh amar ma’ruf nahi munkar untuk kebaikan Lirboyo.
Melihat kondisi seperti itu, akhirnya Kiai Hasyim Asy’ari meminta kepada Kiai Abbas dan Kiai Anas untuk membantu Kiai Manab dalam proses pendirian Pondok Pesantren Lirboyo. Kedekatan antara Kiai Abbas dengan Kiai Manab bukan sekedar saat pendirian Pesantren Lirboyo saja, melainkan ketika proses pernikahan Kiai Manab dengan  Nyai Khodijah (Dlomroh), Kiai Abbas dan Kiai Anas juga menjadi teman terdekatnya yang ikut mengantar.
Menurut KH. Amiruddin, Kiai Abbas sempat pulang ke Pesantren Buntet dan menghadap ke Ayahandanya yaitu Kiai Abdul Jamil. Kepulangan Kiai Abbas ke Buntet dari Jawa Timur, bertujuan untuk meminta uang kepada ayahnya, untuk kelangsungan pernikahan Kiai Manab. Dalam obrolannya, Kiai Abbas menceritakan sosok Kiai Manab sebagai orang yang alim dan memiliki pengetahuan yang cukup tinggi dan yakin akan menjadi ulama yang besar. Kiai Abdul Jamil memberikan uang kepada Kiai Abbas, Konon uang tersebut digunakan sebagai Mahar dan kelangsungan proses pernikahan.
Perjuangan yang dilakukan oleh Kiai Abbas bukah hanya dalam pendirian dan pengajaran Pondok Pesantren saja, tapi juga terlibat dalam perjuangan untuk mempertahankan NKRI. Posisi Kiai Abbas pun menjadi salah satu tokoh penting dalam peristiwa tersebut. Seperti saat terjadinya peristiwa 10 November di Surabaya. Kiai Abbas bersama adiknya yaitu Kiai Anas dan beberapa Kiai lainnya dari Cirebon, ikut terlibat dalam perang 10 November untuk membantu Kiai Hasyim Asy’ari dan arek-arek Suroboyo dalam mengusir penjajah. Penentuan tanggal serangan juga, konon Kiai Hasyim Asy’ari menunggu keputusan dari Kiai Abbas. Saat mengantar Kiai Abbas pergi menuju Surabaya, ribuan santri mengantar kepergiannya dan menciptakan lagu khusus untuk Kiai Abbas dan Kiai-Kiai lainnya.
Menurut kisah yang beredar di masyarakat dan santri Pesantren Buntet, Kiai Abbas memberikan amalan khusus kepada Bung Tomo. Dengan membaca amalan yang diberikan oleh Kiai Abbas, suara yang dikeluarkan oleh Bung Tomo bisa memberikan semangat baru bagi masyarakat dan santri di Surabaya untuk terlibat dalam peperangan 10 November.
Salah satu yang dikenal oleh Kiai Abbas adalah ilmu pencak silat dan kesaktiannya. Dalam pengakuan salah satu pengawal Kiai Abbas di Surabaya, peran Kiai Abbas dalam peperangan 10 November cukup vital. Alu-alu penumbuk padi berterbangan menerjang tentara Inggris, pesawat terbangpun tiba-tiba meledak diudara, padahal. saat itu kekuatan senjata Indonesia belum memilki senjata yang mampu menembak pesawat. Konon, peristiwa-peristiwa tersebut merupakan andil dari Kiai Abbas.
Kiai Abbas wafta pada hari ahad setelah subuh, 1 Rabiul Awal 1365 H atau 1946 M. Wafatnya Kiai Abbas dikarenakan serangan jantung, setelah kecewa dengan adanya perjanjian Linggarjati yang dilakukan pemerintah dan Belanda. Hasil perjanjian yang lebih merugikan Indonesia, membuat Kiai Abbas yang menjadi salah pemimpin pasukan perang Indonesia menjadi sangat terpukul.
Selepas Kiai Abbas wafat, kepemimpinan Pesantren Buntet dipegang oleh putranya yaitu KH. Mustahdi Abbas. Pada tahun 1975, Kiai Mustahdi Wafat dan digantikan oleh adiknya yaitu Kiai Mustamid Abbas. Pada tahun 1988 Kiai Mustamid Abbas wafat dan posisinya digantikan oleh Kiai Abdullah Abbas. Kiai Abdullah Abbas wafat pada hari jum’at 10 Agustus 2007 pada umur 86 tahun. Posisi beliau digantikan oleh adiknya yaitu Kiai Nahduddin Royandi Abbas.
Dalam perkembangannya saat ini, Pondok Pesantren Buntet sudah memiliki lembaga pendidikan mulai dari dasar hingga perguruan tinggi. Semua kegiatan yang terkait dengan pendidikan pesantren maupun pendidikan formal yang ada di Buntet Pesantren, dikelola oleh Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren yang dipimpin oleh KH. Adib Rofiuddin putera dari KH. Izzudin Ahmad Zahid.
Beberapa lembaga pendidikan formal yang ada di Pondok Pesantren Buntet yaitu:
  1. TK Al-Anwar
  2. MI Wathoniyah Putra
  3. MI Wathoniyah Putri
  4. MTs NU Putra 1
  5. MTs NU Putra 2
  6. MTs NU Putri 3
  7. MANU Putra
  8. MANU Putri
  9. SMK NU Mekanika
  10. AKPER Buntet Pesantren
  11. Lembaga Ketrampilan dan Pelatihan (LKP) Buntet Pesantren
Di Buntet Pesantren, saat ini terdapat sekitar 50 asrama atau pondok pesantren yang dikelola oleh masing-masing Kiai. Awalnya, Pondok Buntet Pesantren hanya satu (terpusat). Bangunannya memutar didepan masjid agung Buntet Pesantren dan sisanya berada di sekelilingnya. Untuk membedakan antar asramanya, dibedakan dengan huruf. Sehingga terdapat asrama A hingga asrama L. Sistem pengajarannya pun terpusat dengan menentukan Kiai-Kiai dalam mengajar kitab-kitab tertentu. Sehingga setiap Kiai memiliki pelajaran atau pengajian wajib untuk semua santri. Namun dalam perkembangannya, para alumni mulai memondokkan putra-putrinya, langsung dikediaman Kiai, bukan di asrama yang sudah ada. Sehingga itulah yang mengawali akhirnya Kiai-Kiai membuka pesantren dirumahnya masing-masing dan hingga saat ini terdapat 50 asrama.
    Blogger Comment
    Facebook Comment