Memperlakukan Sesembahan Agama lain

Sumber foto: sinarharapan.co
Dalam kondisi sakit keras, Abu Thalib menghadapi situasi yang krusial yang terjadi antara keponakannya, Muhammad SAW dan tokoh-tokoh suku Quraisy yang terkenal gigih menghadang ajaran Islam yang disebarkan Nabi Muhammad SAW.

“Mari kita datangi Abu Thalib, lalu memintanya agar menjauhkan keponakannya dari kita. Karena sesungguhnya kita akan malu bila kita membunuh keponakannya setelah ia meninggal. Orang-orang Arab akan berkomentar, bahwa dulu Abu Thalib melindunginya, tetapi setelah Abu Thalib meninggal mereka baru berani membunuhya”.

Maka berangkatlah Abu Sufyan, Abu Jahal, Nadr Ibnul Haris, Umayyah serta Ubay (keduanya anak Khalaf), Uqbah Bin Abi Mu’ith, Amr Binul Ash, dan Aswad Ibnul Bukhturi, setelah terlebih dahulu diperantarai oleh seorang lelaki bernama al-Muthalib agar Abu Thalib menerima kunjungan mereka.

Kepada Abu Thalib, tokoh-tokoh Quraisy itu mengeluhkan tentang keponakannya yang mengata-ngatai sesembahan mereka. “Cegahlah dia, jangan mengata-ngatai sesembahan kami lagi, maka kami pun akan membiarkannya bersama Tuhannya”.

Nabi Muhammad SAW yang tiba belakangan setelah dipanggil oleh Abu thalib, berdialog dengan tokoh-tokoh Quraisy. Tuntutan mereka dijawab oleh Rasulullah SAW dengan ajakan mengucapkan kalimat Syahadat.

Rasulullah SAW berkata demikian dengan maksud memutuskan harapan mereka untuk dapat membujuknya. Maka mereka marah dan mengancam akan mengejek Allah SWT.

Berlatar belakang peristiwa ini, Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu mengolok sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan mengolok Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” 
(QS. Al An’am: 108).


Asbab an-Nuzul (latar belakang wahyu) surat al-An’am ayat 108 di atas diceritakan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari as-Saddi yang dikutip oleh Ismail Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Berdasarkan ayat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam pergaulan dengan non-muslim, kita harus menghormati keimanan mereka (atas apa yang mereka sembah) dengan tidak mengolok-olok Tuhan mereka, meskipun tentu saja berbeda pengertianya dengan Tuhan yang kita Imani. Hal itu bertujuan untuk menjaga agar Allah tidak diejek oleh orang yang tidak mengimaninya.


Sikap tenggang rasa ini akan melahirkan keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia. Masing-masing pemeluk agama menjalankan syariat-nya secara leluasa tanpa menyinggung kepercayaan yang lain.

***
Share on Google Plus

About Agung Firmansyah

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment